telusur.co.id - Oleh : Lira Rifani Yuniar
Selama ini kita terlalu sering membicarakan pendidikan dengan sibuk menghitung nilai,
mengukur capaian akademik, dan membandingkan prestasi. Kita membangun berbagai ukuran tentang siapa yang dianggap berhasil dan siapa yang dianggap tertinggal.
Namun di tengah semua itu, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan mengenai “apakah pendidikan telah benar-benar menjadi ruang yang memungkinkan seseorang bertumbuh?”
Pertanyaan itu terus muncul dalam benak saya selama kurang lebih lima bulan menjalani
masa pengabdian di Satuan Pendidikan Nonformal Sanggar Kegiatan Belajar (SPNF SKB) Ponorogo.
Di tempat ini, saya bertemu dengan banyak peserta didik dari latar belakang yang berbeda.
Ada yang masih berusia belasan tahun, ada pula yang sudah dewasa. Sebagian sedang menempuh Paket A, Paket B, maupun Paket C.
Mereka datang dengan cerita hidup yang tidak
sama. Ada yang pernah putus sekolah karena faktor ekonomi, ada yang harus bekerja lebih
dahulu sebelum melanjutkan pendidikan, dan ada pula yang baru memiliki kesempatan belajar kembali setelah sekian lama meninggalkannya.
Melihat mereka membuat saya menyadari satu hal bahwa pendidikan nonformal bukan sekedar jalur pendidikan alternatif seperti yang selama ini dipahami banyak orang. Ia adalah ruang kedua bagi mereka yang pernah kehilangan kesempatan, sekaligus ruang bagi mereka yang ingin terus berkembang.
Sayangnya, keberadaan pendidikan nonformal masih sering dipandang sebelah mata. Ketika
berbicara tentang pendidikan, masyarakat umumnya langsung membayangkan sekolah,
seragam, ruang kelas, dan bangku-bangku yang tersusun rapi. Sementara pendidikan nonformal sering kali hanya muncul sebagai catatan kaki dalam pembahasan pendidikan nasional. Ia ada, tetapi jarang diperhatikan. Ia bekerja, tetapi jarang dibicarakan.
Padahal, di ruang-ruang pendidikan nonformal inilah saya justru melihat sesuatu yang terkadang sulit ditemukan di tempat lain yakni ruang bagi manusia untuk menemukan dirinya sendiri.
Tidak semua orang lahir dengan kemampuan yang sama. Ada yang percaya diri berbicara di
depan umum. Ada yang mampu mengekspresikan dirinya melalui seni tari, musik, atau kesenian tradisional seperti Reog. Ada yang memiliki kemampuan memimpin, bekerja sama,
atau mengorganisasi kelompok. Namun sering kali potensi-potensi tersebut tidak memperoleh tempat yang cukup untuk tumbuh karena kita terlalu sibuk mengukur kemampuan manusia melalui satu standar yang sama.
Kita hidup dalam budaya yang begitu mengagungkan angka. Nilai menjadi ukuran
kecerdasan. Sementara bakat, kreativitas, keberanian, dan kepercayaan diri sering kali
dianggap sebagai pelengkap.
Akibatnya, tidak sedikit orang yang tumbuh dengan keyakinan bahwa, dirinya biasa-biasa
saja. Bukan karena mereka tidak memiliki kemampuan, melainkan karena kemampuan yang
mereka miliki tidak pernah mendapatkan ruang untuk ditunjukkan.
Selama berada di SKB Ponorogo, saya beberapa kali menyaksikan peserta didik tampil membawakan tari maupun kesenian Reog dalam berbagai kegiatan. Sebagian terlihat gugup
ketika berdiri di depan banyak orang. Ada yang masih canggung. Ada yang sesekali tersenyum malu. Namun mereka tetap tampil dengan sangat memukau.
Bagi sebagian orang, hal tersebut mungkin hanya sebuah pertunjukan. Bagi saya, itu adalah proses pendidikan.
Sebab keberanian untuk tampil di hadapan orang lain tidak lahir dalam satu malam. Ia tumbuh dari proses panjang. Dari latihan yang berulang. Dari dukungan yang terus diberikan. dan Dari lingkungan yang membuat seseorang merasa aman untuk mencoba.
Di titik inilah saya memahami bahwa pendidikan nonformal sesungguhnya tidak hanya mengajarkan keterampilan. Ia juga membangun kepercayaan diri.
Hal yang menarik adalah bagaimana proses tersebut berlangsung. Tidak melalui tekanan.
Tidak melalui kompetisi yang berlebihan. Tetapi melalui hubungan yang hangat antara
pamong dan peserta didik.
Saya melihat para pamong mengenal peserta didiknya secara personal. Mereka mengetahui
siapa yang masih pemalu, siapa yang membutuhkan dorongan lebih, dan siapa yang
sebenarnya memiliki potensi besar tetapi belum berani menunjukkannya.
Kedekatan semacam itu menciptakan suasana belajar yang berbeda. Peserta didik tidak merasa sedang dihakimi. Mereka merasa didampingi. Barangkali hal inilah yang sering luput dari diskusi kita tentang pendidikan. Pendidikan pada akhirnya tetap berbicara tentang manusia. Dan manusia hanya dapat berkembang ketika ia merasa diterima, dihargai, dan diberikan kesempatan.
Dalam kegiatan kelulusan yang berlangsung beberapa waktu lalu, peserta didik kembali
menunjukkan kemampuan mereka melalui penampilan tari tradisional yang telah dipelajari
selama proses pembelajaran. Hal tersebut benar-benar membuat saya terkesima dengan
kemampuan siswa serta bagaimana pendidikan nonformal menjadi ruang tumbuh mereka.
Pada kesempatan tersebut, Plt Ketua SKB Ponorogo, Suwadi, S.Pd. menyampaikan sebuah
kalimat sederhana yang terus teringat hingga hari ini; “Dunia ini luas, dunia ini akan banyak cerita, dan semoga di manapun kita berada, kita dapat menikmatinya.”
Bagi saya, kalimat tersebut bukan sekedar motivasi. Ia mengandung cara pandang yang
penting dalam pendidikan. Bahwa dunia tidak hanya membutuhkan orang-orang dengan
nilai tertinggi.
Dunia membutuhkan manusia dengan berbagai kemampuan, berbagai keterampilan, dan berbagai pengalaman hidup. Karena itulah pendidikan seharusnya tidak hanya bertugas mencetak lulusan. Pendidikan harus membantu seseorang menemukan kemungkinan-kemungkinan indah yang ada dalam dirinya.
Pendidikan nonformal telah melakukan hal itu selama bertahun-tahun, meskipun sering kali
tanpa sorotan. Ia menerima mereka yang pernah tertinggal. Ia mendampingi mereka yang
ingin memulai kembali. Ia membuka ruang bagi mereka yang selama ini tidak memperoleh
kesempatan yang sama.
Di tengah dunia yang semakin gemar memberi label tentang siapa yang berhasil dan siapa
yang gagal, pendidikan nonformal mengajarkan sesuatu yang jauh lebih sederhana bahwa
setiap orang berhak bertumbuh. Dan sering kali, yang dibutuhkan seseorang untuk bertumbuh bukanlah penilaian, melainkan kesempatan.
*Penulis merupakan aktivis sosial di Kota Surabaya. Eks Menteri Aksi dan Propaganda Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (BEM UNESA), Sekretaris Kader Inti Pemuda Anti Narkoba (KIPAN) Provinsi Jawa Timur, dan Anggota Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Perguruan Tinggi Jawa Timur.



