Sejarah Mataram Kuno Pernah Terjadi Perang Saudara Menyangkut Agama, Sebagai Bahan Refleksi Indonesia Kedepan. - Telusur

Sejarah Mataram Kuno Pernah Terjadi Perang Saudara Menyangkut Agama, Sebagai Bahan Refleksi Indonesia Kedepan.

Ilustrasi Candi Prambanan. Foto: Ist

telusur.co.id -

Oleh. : Agus Widjajanto, Praktisi Hukum dan Pemerhati Sosial Budaya. 

Pada abad ke tujuh di Jawa tengah bagian selatan pernah berdiri kerajaan Hindu terbesar yang bernama Mataram Hindu , yang keturunan nya telah mewariskan karya agung berupa bangunan candi fenomenal yang jadi keajaiban dunia , yaitu candi Borobudur dan candi Prambanan atau candi Sewu yang terketak di magelang dan klaten jawa tengah .

Kerajaan Mataram kuno didirikan oleh Rakai Mataram sang Ratu Sanjaya pendiri dinasti Sanjaya pada tahun 732 Masehi dan berkuasa hingga tahun 760 Masehi. Maka kerajaan nya dinamakan Kerajaan Mataram Hindu karena raja dan masyarakat nya beragama Hindu siwa. 

Raja kedua adalah Sri Maharaja Rakai panangkaran yang berkuasa tahun 760 hingga tahun 780 Masehi . 

Raja ketiga yaitu Sri Maharaja Rakai Panunggalan/ Dharma Tungga yang memerintah tahun 780 sampai tahun 800 Masehi .

Yang ke empat adalah Raja Sri Maharaja Rakai Warok / Indra Syailendra, yang memerintah tahun 800 hingga 820 Masehi 

Dimana saat pemerintahan Rakai Warok / indra saylendra kerajaan Mataram bukan lagi menganut agama Hindu Siwa tapi sudah beralih kepada agama Bhuda Mahayana, yang menimbulkan perang saudara dalam perang agama dan keyakinan yang merupakan perang agama terbesar pada saat itu, hingga membuat kestabilan pemerintahan terganggu , karena adanya perpecahan dalam keluarga . 

Baru pada saat raja Mataram yang ke lima yaitu Sri Maharaja Rakai Garung atau Raja samaratungga , pemerintahan agak stabil dan perang saudara sudah bisa diredam , disinilah Sri Maharaja Samaratungga membangun candi tempat peribadatan agama Bhuda Mahayana terbesar yang dinamakan candi Sambara Bhudura , atau dikenal dengan candi Borobudur , yang merupakan candi Bhuda terbesar diseluruh Dunia. 

Untuk menjaga kestabilan politik dan keamanan dalam meredam terjadinya pecah perang agama lagi antara dinasti Sanjaya dengan dinasti Syailendra , maka oleh Sri Maharaja Samaratungga , anak nya laki laki yang bernama Rakai Pikatan yang beragama Hindu Siwa dikawinkan dengan Ratu Pramoerdawardhani dari Dinasti Syailendra yang beragama Bhuda Mahayana pada tahun 824 Masehi , berdasarkan catatan prasasti Kayumwungan . 

Bahwa perkawinan antar dinasti sebagai perkawinan politik yang beda agama dan keyakinan ini , bertujuan agar seluruh keturunan baik keturunan wangsa Sanjaya maupun keturunan wangsa Syailendra ada jaminan keselamatan dan keamanan yang bisa mencapai kesejahteraan bersama untuk bisa diakhirinya perang saudara dalam perang agama tersebut. 

Pada saat Maha Raja Rakai Pikatan yang beragama Hindu Siwa beristri Pramoerdawardhani dari wangsa Syailendra yang beragama Bhuda Mahayana, memerintahkan untuk membuat candi yang bercorak Hindu Siwa , untuk menandingi berdirinya candi Bhuda (Shambara Bhudura / Borobudur) maka Rakai Pikatan membangun candi Sewu yang bernama candi Prambanan pada tahun 850 Masehi, sebagai tempat ibadah bagi orang yang beragama Hindu Siwa , walaupun dalam pemerintahan Mataram saat Rakai Pikatan. Memerintah , baik agama Hindu Siwa maupun Bhuda Mahayana bisa hidup berdampingan , dengan damai mendapat jaminan dari Politik kerajaan saat itu. Bahwa candi Prambanan atau candi Sewu pada saat itu juga dibuat sistem pengairan dengan tata kelola pengairan disamping untuk pertanian juga untuk menjaga agar candi prambanan tidak terkurung banjir, maka pada saat itu telah melakukan sudetan sungai opak yang awalnya melingkar dijadikan lurus , dimana tehnik sudetan sungai besar jaman itu sudah dikuasi dengan cara manual , Candi Prambanan sendiri karena begitu banyak nya patung yang harus dibuat yang mencapai hampir 550 patung dengan relief sangat indah dan rumit secara tehnik maka , setelah mangkat nya Rakai Pikatan pembangunan selanjut nya diteruskan oleh Raja Balitung Masa sumbu berdasarkan keterangan prasasti "Siwagra " .

Bahwa perang saudara yang berlatar agama saat itu , sesuai catatan sejarah antara Rakai Pikatan dengan Bala putra Dewa , yang memperebutkan tahta kerajaan Medang Mataram Kuno , meski bertahan dibenteng Ratu Boko yang terbuat dari timbunan batu Bala Putra Dewa kalah , dan memilih menyingkir ke Sumatera ke tanah kelahiran Ibunya , dan mendirikan kerajaan Sriwijaya yang bercorak Bhuda , yang belakangan menjadi kerajaan Bhuda terbesar di Asia tenggara. 

Bahwa candi Prambanan adalah candi Hindu terbesar yang telah dibangun di Jawa saat itu , beberapa sejarawan menduga bahwa dibangun nya candi Prambanan sebagai candi Hindu Siwa terbesar untuk menandai kembalinya dinasti / Wangsa Sanjaya dipemerintahan , setelah hilang nya kekuasaan pada saat Raja Mataram kuno dijabat oleh Raja Rakai Warok/ Indra Syailendra, Candi Prambanan sendiri dibangun oleh Rakai Pikatan pada tahun 856 Masehi . Prasasti Wantil juga menyebutkan bahwa Rakai Pikatan alias Rakai Mamrati turun tahta menjadi brahmana bergelar Sang Jatiningrat pada tahun 856 Masehi , dimana tahta kerajaan dipegang oleh putra bungsunya yaitu Dyah Lokapala alias Rakai Kayuwangi . 

Dan pada tahun 930 karena kondisi geografis yang mana adanya gunung merapi meletus yang mengakibatkan Candi Borobudur terpendam lumpur gunung berapi , dan candi Prambanan rusak parah , oleh mpu Sendok ibukota Mataram dipindah ke Jawa timur , dengan mendirikan dinasti Isyana, sebagai berdiri nya sejarah baru di Jawa timur yang akan melahirkan Raja Raja Singosari hingga Majapahit nantinya. 

Candi Borobudur yang merupakan candi budha terbesar di dunia yang berbentuk bunga teratai ditengah kolam telaga warna , baru ditemukan lagi setelah ratusan tahun tertimbun lahar , oleh tentara Inggris dibawah Pimpinan Thomas Stanford Raffles pada tahun 1814 Masehi dalam keadaan hancur . 

Refleksi sejarah masa lalu yang bisa kita ambil untuk Indonesia kedepan , bahwa bangsa ini adalah bangsa yang mempunyai kebudayaan sangat tinggi dan adi luhung , dimana bangsa bangsa lain dibelahan bumi lainya masih belum berbudaya dan menguasai tehnis rancang bangun Nenek moyang kita sudah menguasai nya, bahwa bangsa ini juga sudah pernah mengalami perang agama di Nusantara yang merupakan perang agama terbesar saat itu, dan bisa berahir karena sifat keteladanan dan kebijakan serta kebesaran hati dari pemimpin nya saat itu yakni Raja Sri Maharaja Samaratungga dan anak nya Raja Sri Maharaja Rakai Pikatan serta Maha Dewi Pramoerdawardhani sebagai ratu dari wangsa Syailendra. 

Untuk itu sejarah masa lalu bisa menjadi bekal pengalaman dan kekuatan serta ketetapan hati setiap anak bangsa pada saat ini dan generasi kedepan agar belajar dari sejarah masa lalu, jangan sekali kali melupakan sejarah ( Jas Merah ) seperti yang di gaungkan Bung Karno dimana segenap anak bangsa jangan mau lagi diadu domba dalam politik praktis menyangkut konflik agama apalagi dikaitkan antara pemilihan umum sebagai penyaluran hak demokrasi dengan keyakinan agama nya, yang merupakan tindakan pengerdilan akan sejarah masa lalu bangsa ini. karena leluhur leluhur kita sudah pernah mengalami nya , dan karena sejarah masa lalu lah para pendiri bangsa ( Founding Father ) membentuk Dasar negara yaitu Pancasila sebagai falsafah dan pandangan hidup bangsa yang diadopsi dan diilhami dari nilai nilai luhur masa lalu sebagai bangsa yang Gung Binantoro ( terkenal karena kebesarannya dan keagungan budaya nya ) untuk tetap menjaga toleransi dalam beragama . Saling menghormati sebagai sesama anak bangsa, Demi Indonesia tercinta, yang bersemboyan Bhineka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa. 

Penulis adalah Praktisi hukum di jakarta, penulis dan pemerhati politik sosial budaya bangsanya .


Tinggalkan Komentar