telusur.co.id - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menetapkan empat fokus utama pembangunan Bali sebagai langkah menjaga keberlanjutan Pulau Dewata di tengah pesatnya pertumbuhan sektor pariwisata.

Empat klaster tersebut meliputi penguatan sektor pariwisata, peningkatan konektivitas, pelestarian kualitas lingkungan, serta penataan ruang yang berkelanjutan.

"Saya ingin fokus di empat klaster. Empat klaster ini merupakan upaya pengembangan Bali yang saya harapkan bisa kita kawal bersama-sama," kata AHY saat Rapat Koordinasi Pembangunan Wilayah Bali di Denpasar, Senin.

AHY menempatkan sektor pariwisata sebagai prioritas utama. Menurutnya, Bali memiliki peran strategis sebagai pintu gerbang wisata Indonesia setelah menyumbang Rp176 triliun dari total Rp319,9 triliun devisa pariwisata nasional. Selain itu, sekitar 45,8 persen wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia sepanjang 2025 masuk melalui Bali.

Meski demikian, ia mengingatkan pengembangan pariwisata tidak boleh mengorbankan kelestarian alam maupun terlalu terpusat di kawasan tertentu.

"Destinasi harus terus dikembangkan, tetapi tidak boleh terkonsentrasi di satu atau dua kawasan saja karena akan menambah beban pembangunan dan tekanan terhadap daya dukung lingkungan," ujarnya.

Fokus kedua adalah peningkatan konektivitas. AHY menilai kemacetan yang kerap terjadi, terutama di kawasan Bali Selatan, membutuhkan solusi transportasi yang lebih terintegrasi agar mobilitas masyarakat dan wisatawan tetap lancar.

"Kita harus menyiapkan berbagai alternatif solusi konektivitas yang reguler, terutama di wilayah Bali Selatan yang menjadi pusat aktivitas," katanya.

Klaster ketiga menyangkut kualitas lingkungan. AHY menyoroti persoalan sampah, pencemaran sumber air, abrasi pantai, hingga semakin berkurangnya lahan produktif sebagai tantangan serius yang harus segera ditangani.

"Belum lagi abrasi yang mengancam pantai-pantai kita, pesisir kita, serta berkurangnya lahan-lahan produktif, termasuk sawah yang harus dipertahankan," ungkapnya.

Sementara itu, penataan ruang menjadi fokus keempat. Menurut AHY, tata ruang harus menjadi dasar seluruh proses pembangunan agar pertumbuhan wilayah tidak memicu persoalan baru, mulai dari kerusakan lingkungan hingga terganggunya sektor pariwisata.

Gubernur Bali Wayan Koster menyambut baik empat prioritas yang disampaikan pemerintah pusat. Ia menilai seluruh fokus tersebut sejalan dengan tantangan yang saat ini dihadapi Pemerintah Provinsi Bali.

Menurut Koster, pesatnya pertumbuhan pariwisata memang membawa manfaat besar bagi perekonomian daerah, tetapi juga memunculkan berbagai persoalan seperti alih fungsi lahan, penumpukan sampah, kerusakan ekosistem, ancaman krisis air bersih, hingga kemacetan.

"Yang pertama adalah alih fungsi lahan yang cukup tinggi, sampahnya banyak, ekosistem lingkungan terganggu, ancaman air bersih, dan macet," kata Koster.

Ia menambahkan, kapasitas infrastruktur dan transportasi publik di Bali saat ini belum mampu mengimbangi pertumbuhan aktivitas masyarakat dan wisatawan. Karena itu, Pemprov Bali terus berkoordinasi dengan berbagai kementerian untuk mempercepat pembangunan infrastruktur.

Koster mengatakan pemerintah daerah telah menyusun kebutuhan pembangunan jaringan jalan dan konektivitas antarkabupaten, mulai dari Bali Timur, Bali Utara, hingga Bali Barat, termasuk peningkatan akses antara Denpasar dengan Badung, Gianyar, dan Klungkung.

"Kami berharap pembangunan konektivitas ini menjadi prioritas agar sektor pariwisata Bali dapat terlayani dengan lebih baik sekaligus mendukung pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Pulau Dewata," ujarnya.