telusur.co.id - DPP Garda Pemuda NasDem mengatakan tiga rekomendasi terkait rencana aksi untuk percepatan adopsi Industri 4.0, pasca pandemi Covid-19. Krisis yang diakibatkan pandemi Covid-19 telah ‘memaksa’ semua pihak untuk mempercepat adopsi teknologi dalam keseharian.
Indonesia harus mempercepat adopsi teknologi industri 4.0, dan melakukan transformasi digital di semua lini kegiatan ekonominya baik itu di sektor manufaktur ataupun di sektor UMKM.
Industri 4.0 adalah perubahan besar yang tidak bisa dilawan, pelaku ekonomi Indonesia harus beradaptasi dan memanfaatkan keunggulan industri 4.0 untuk memperkuat produktivitas dan daya saing ekonomi nasional.
Garda Pemuda NasDem (GP NasDem) akan membuat rekomendasi resmi ke Fraksi NasDem DPR RI untuk percepatan adopsi Industri 4.0 di Indonesia dan juga membuat FGD khusus yang melibatkan asosiasi usaha di industri prioritas untuk 4.0 yaitu industri kimia, industri farmasi dan obat tradisional, industri alat angkutan, dan industri makanan dan minuman dan asosiasi usaha lainnya seperti HIPMI dan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN).
FGD ini diharapkan dapat menjadi wadah untuk urun rembuk guna memberikan pandangan dan masukan dari dunia usaha dalam usaha mempercepat adopsi Industri 4.0.
Di dalam rekomendasi ini, diwakili Ketua Bidang Kewirausahaan DPP GP NasDem, Aaron Sampetoding, menambahkan setidaknya ada tiga rencana aksi yang perlu diimplementasikan untuk mempercepat adopsi Industri 4.0 di Indonesia.
Pertama, menciptakan dan memperkuat ekosistem Industri 4.0. Membangun ekosistem industri 4.0 akan menciptakan kolaborasi antara sektor manufaktur, perusahaan riset dan teknologi dan juga dengan universitas dan akademisi; Membangun kemitraan strategis antara UMKM dan manufaktur yang mempunyai visi yang sama terhadap industri 4.0; Membangun kemitraan informasi dan pengetahuan antara sektor manufaktur, perusahaan dan universitas pada bidang teknologi dan riset.
Kedua, perencanaan strategis sumber daya manusia dan tenaga kerja nasional untuk menyongsong industri 4.0. Caranya, menciptakan high-skilled labor force yang dulunya low-skilled labor force melalui jurusan spesialisasi di universitas, vokasi kejuruan dan Lembaga Pendidikan alternatif lainnya.
"Inventarisasi kekurangan pasokan terhadap kebutuhan tenaga kerja industri 4.0. Mengurangi kekurangan pasokan kebutuhan tenaga kerja industri 4.0 dengan menarik bakat asing untuk transfer pengetahuan kepada tenaga kerja lokal," katanya.
Ketiga, penambahan pendanaan untuk inovasi. Penambahan anggaran negara untuk penciptaan ekosistem industri 4.0 nasional dan memfasilitasia akses pendanaan dari perbankan maupun dari institusi swasta. [ham]



