telusur.co.id - Mubarok Institute secara resmi menyampaikan dukungan penuh terhadap keputusan strategis Presiden Prabowo Subianto yang mengusulkan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI) definitif guna menggantikan Perry Warjiyo. Keputusan tersebut dinilai sebagai langkah visioner yang sangat tepat dalam menjaga stabilitas moneter, memberikan arah kepastian bagi pasar, serta mengakselerasi pertumbuhan sektor riil di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Chairman Mubarok Institute, Fadhil As. Mubarok, menegaskan bahwa kepemimpinan bank sentral pada era keberlanjutan ini membutuhkan sosok yang tidak hanya memiliki integritas tinggi, tetapi juga rekam jejak mendalam serta pemahaman komprehensif terhadap lanskap keuangan nasional.
"Sebagai sosok yang merupakan sahabat kami di Mubarok Institute, kami mengenal betul kapasitas, integritas, serta rekam jejak mendalam beliau dalam mengawal lanskap keuangan nasional secara profesional. Oleh karena itu, seluruh sahabat Mubarok Institute menyatakan dukungan sepenuhnya kepada Ibu Destry Damayanti untuk mengemban amanah besar ini demi membawa perekonomian Indonesia ke arah yang lebih stabil, mandiri dan inklusif," ujar pria yang akrab disapa Gus Fadhil ini dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (12/8/2026).
Transisi kepemimpinan di pucuk otoritas moneter nasional ini langsung direspon positif oleh para pelaku pasar finansial. Sinyal kepastian kepemimpinan terbukti ampuh meredakan kekhawatiran pasar, yang ditandai dengan apresiasi nilai tukar Rupiah hingga mencapai kisaran Rp17.765 per Dolar AS, menjauhi level psikologis Rp18.000.
Investor asing maupun domestik menilai proses peralihan kepemimpinan yang berjalan mulus ini sebagai jaminan bahwa independensi dan kesinambungan kebijakan Bank Indonesia tetap terjaga kokoh dari intervensi politik jangka pendek. Kondisi ini kian diperkuat oleh posisi cadangan devisa nasional yang berada pada level sangat solid, yakni sebesar US$145,3 miliar.Dukungan cadangan devisa yang kuat serta kepastian kerangka kerja moneter membuat potensi risiko arus modal keluar (capital outflow) dapat diredakan dengan baik tanpa perlu melakukan perombakan radikal pada instrumen moneter yang telah terbangun.
Lebih lanjut, Gus Fadhil menjelaskan bahwa arah kebijakan suku bunga di bawah kepemimpinan baru diproyeksikan akan tetap konsisten pada koridor pro-stability untuk memagari perekonomian dari guncangan eksternal. Penetapan BI Rate yang diproyeksikan bertahan pada level restriktif sekitar 5,50% dinilai sebagai langkah kalkulatif yang krusial.
Langkah ini penting untuk memastikan imbal hasil dari aset-aset berbasis Rupiah, seperti Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) tetap memiliki daya saing tinggi di tengah tren ketatnya suku bunga global.
Mubarok Institute meyakini bahwa di bawah kepemimpinan Destry Damayanti, BI akan mengedepankan bauran kebijakan yang fleksibel dan terukur. Ruang pelonggaran suku bunga diprediksi baru akan dibuka secara bertahap apabila volatilitas nilai tukar benar-benar mereda secara berkelanjutan dan laju inflasi domestik dapat terus dijaga konsisten pada sasaran target 2,5% ± 1%.
Injeksi Likuiditas untuk Sektor Manufaktur dan Otomatisasi KLM
Kendati stabilitas moneter terjaga, Gus Fadhil memberikan perhatian khusus terhadap tantangan mendasar di sektor riil, terutama industri manufaktur domestik yang memerlukan insentif likuiditas secara berkesinambungan.
Bank Indonesia didorong untuk semakin mengoptimalkan instrumen Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) guna memberikan ruang dan insentif likuiditas bagi perbankan nasional yang aktif menyalurkan kredit ke sektor manufaktur berorientasi ekspor.
"Bank Indonesia harus mengambil pendekatan yang lebih proaktif melalui penyusunan rencana aksi yang konkret serta mempererat kerja sama yang kooperatif bersama perbankan domestik. Dengan demikian, penyaluran pembiayaan tidak hanya tertahan di sektor keuangan semata, tetapi benar-benar mengalir deras untuk menggerakkan roda produksi manufaktur di tanah air," ungkapnya.
Untuk memastikan ekspansi sektor manufaktur tidak terhambat oleh pengetatan moneter, koordinasi dan harmonisasi antara Bank Indonesia sebagai otoritas moneter dan pemerintah sebagai pemegang kebijakan fiskal menjadi kunci utama. Sinergi lintas otoritas ini sangat vital agar kebijakan pembatasan likuiditas moneter tidak menekan daya hidup sektor manufaktur yang sedang berjuang meningkatkan kapasitas produksi.
Di sisi lain, pemerintah diimbau untuk bekerja ekstra keras menggali dan mengoptimalkan potensi Sumber Daya Alam (SDA) nasional guna menjaring pasokan devisa secara maksimal demi memperkuat cadangan devisa dan pendapatan negara.
Dari ranah fiskal, pemerintah diharapkan mengambil langkah terobosan untuk memulihkan daya saing sektor riil melalui pemberian insentif pajak yang tepat sasaran. Kebijakan perpajakan yang adaptif, ramah investasi, dan berfokus pada penguatan manufaktur nasional dinilai akan menjadi pendamping ideal bagi kebijakan moneter BI dalam menjaga stabilitas kurs Dolar AS serta BI Rate secara bersamaan.
"Penunjukan Ibu Destry Damayanti bukan sekadar penyegaran struktur kepemimpinan, melainkan fondasi penting bagi terciptanya integrasi yang harmonis antara stabilitas nilai tukar Rupiah, keterjagaan inflasi, dan keberlanjutan pertumbuhan manufaktur domestik. Mubarok Institute yakin Bank Indonesia tidak hanya akan menjadi benteng pertahanan ekonomi dari badai krisis global, tetapi juga katalisator utama kolaborasi fiskal-moneter demi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia," pungkasnya



