telusur.co.id -Tren penyelenggaraan konser musik di Indonesia terus mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Melihat besarnya potensi pasar, para promotor semakin gencar menghadirkan musisi internasional, terutama untuk menyasar kalangan Generasi Z yang dikenal memiliki antusiasme tinggi terhadap hiburan.
Pesatnya perkembangan media sosial turut menjadi faktor yang mempercepat penyebaran informasi mengenai konser sekaligus membentuk minat masyarakat, khususnya Generasi Z, untuk menghadiri berbagai pertunjukan musik.
Menanggapi fenomena tersebut, Dosen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (UNAIR), Prof. Dr. Gancar Candra Premananto, C.I., C.D.M., Q.C.R.O., AIBIZ., C.C.C., menilai media sosial memiliki peran besar dalam meningkatnya minat Generasi Z terhadap konser.
Menurutnya, platform digital menjadi sarana yang efektif bagi promotor untuk menjangkau calon penonton dengan biaya promosi yang relatif rendah.
"Indonesia menjadi pasar yang sangat potensial bagi penyelenggara konser. Pengguna internet dan media sosial yang tinggi membuat informasi mengenai konser sangat cepat menyebar. Terutama di kalangan Generasi Z," ujarnya.
Prof. Gancar menjelaskan bahwa banyak Generasi Z memandang konser sebagai bentuk self-reward atau penghargaan terhadap diri sendiri sekaligus investasi pengalaman. Namun, menurutnya, alasan tersebut bukan satu-satunya faktor yang mendorong seseorang membeli tiket konser.
Ia menyebut terdapat tiga motif utama yang memengaruhi perilaku konsumsi masyarakat, yakni self-reward, motif hedonis, dan motif simbolik.
Motif self-reward muncul ketika seseorang merasa telah bekerja keras sehingga ingin memberikan penghargaan kepada dirinya sendiri. Sementara itu, motif hedonis berkaitan dengan keinginan memperoleh kesenangan, sedangkan motif simbolik berkaitan dengan kebutuhan akan pengakuan sosial.
"Di era media sosial, motif simbolik semakin kuat karena banyak orang ingin memvalidasi status sosialnya melalui pengalaman menghadiri konser tertentu," ucapnya.
Menurut Prof. Gancar, ketiga motif tersebut kerap dimanfaatkan oleh pelaku industri hiburan untuk meningkatkan penjualan tiket. Namun, kondisi itu dapat menjadi persoalan apabila seseorang memaksakan diri membeli tiket di luar kemampuan finansial, bahkan sampai menggunakan pinjaman daring (pinjol) atau melakukan tindakan yang melanggar hukum.\
Lebih lanjut, Prof. Gancar menilai fenomena fear of missing out (FOMO) menjadi salah satu tekanan sosial yang cukup besar bagi Generasi Z. Keinginan mengikuti tren dan memperoleh pengakuan dari lingkungan sering kali membuat seseorang mengambil keputusan konsumsi secara impulsif.
Ia mencontohkan penggunaan layanan paylater maupun pinjaman daring untuk membeli tiket konser.
"Keputusan menjadi tidak rasional apabila kemampuan membayar tidak sebanding dengan besarnya utang. Kondisi tersebut bahkan dapat memicu kebiasaan menutup utang lama dengan pinjaman baru," jelasnya.
Agar tetap dapat menikmati hiburan tanpa mengorbankan kondisi finansial, Prof. Gancar mengimbau Generasi Z untuk menyusun perencanaan keuangan secara disiplin.
Ia menyarankan pembagian anggaran bulanan dengan komposisi sekitar 40 persen untuk kebutuhan pokok, 30 persen untuk kebutuhan sosial, 20 persen untuk hiburan, serta 10 persen untuk tabungan dan investasi.
Dengan pengelolaan keuangan yang baik, keinginan menonton konser dapat dipersiapkan sejak jauh hari tanpa harus mengandalkan utang atau keputusan yang bersifat impulsif.
"Dengan perencanaan yang baik, seseorang dapat mempersiapkan keinginan menonton konser jauh-jauh hari. Sehingga tidak berubah menjadi keputusan konsumsi yang impulsif," pungkasnya.



