Atasi Ketergantungan Diesel, ITS Rancang PLTS untuk Penggilingan Padi di Margomulyo

by Arianto Deni |
Atasi Ketergantungan Diesel, ITS Rancang PLTS untuk Penggilingan Padi di Margomulyo
Brigjen Pol Muhammad Iqbal SIK MSi (kanan) saat berdiskusi mengenai topik Tim 13 Ekspedisi Patriot ITS bersama Anggota Tim 13 Nareswari Cantika Nurmansyah SAk (tengah) dan Amri Diensyah Hufadz Abdullah ST (kiri). Foto: ITS

Ketergantungan petani terhadap bahan bakar diesel untuk mengoperasikan mesin penggilingan padi menjadi salah satu persoalan yang dihadapi masyarakat Kampung Margomulyo, Distrik Oransbari, Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat.

Kondisi tersebut mendorong Tim 13 Ekspedisi Patriot (TEP) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) merancang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebagai sumber energi alternatif untuk mendukung operasional mesin penggilingan padi sekaligus penerangan jalan umum.

Kampung Margomulyo saat ini hanya memiliki satu penggilingan padi milik pribadi dengan kapasitas yang terbatas. Akibatnya, sebagian petani harus membawa hasil panennya ke kampung lain untuk menjalani proses penggilingan.

“Di Kampung Margomulyo sendiri sampai saat ini belum tersedia penggilingan padi yang dapat menampung seluruh hasil panen masyarakat. Kalaupun ada, hanya terdapat satu penggilingan padi dan itu pun milik pribadi,” ungkap Kepala Kampung Margomulyo, Jumat (4/9).

Persoalan tidak hanya terletak pada keterbatasan kapasitas penggilingan. Penggunaan mesin berbahan bakar diesel juga membuat biaya operasional relatif tinggi. Di sisi lain, ketersediaan bahan bakar yang tidak selalu mudah diperoleh menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat.

Melihat kondisi tersebut, TEP 13 ITS merancang sistem energi alternatif berbasis tenaga surya yang diharapkan dapat mendukung pengoperasian mesin penggilingan padi secara lebih mandiri.

PLTS yang dirancang memiliki kapasitas 5.000 Wp dan akan digunakan untuk menopang mesin penggilingan padi dengan kapasitas produksi hingga 250 kilogram per jam.

“Program pemanfaatan energi matahari untuk penggilingan padi dan juga penerangan jalan adalah sangat strategis. Kementerian Transmigrasi RI yang menggandeng para ahli ITS yang diterjunkan di Kawasan Transmigrasi Distrik Oransbari adalah sebuah format riset terapan yang dapat dikembangkan dalam skala yang lebih luas,” ujar ketua Tim 13 TEP ITS, Prof Dr Ir Imam Robandi MT IPU, Jumat (4/9).

Menurut Imam, yang kerap dikenal dengan sebutan Prof. Iro, program tersebut tidak hanya berkaitan dengan penerapan teknologi energi terbarukan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut dapat menjadi jembatan kerja sama antara ITS dan masyarakat Papua.

Ia melihat Kampung Margomulyo memiliki potensi pertanian yang cukup besar. Dengan kondisi lahan yang subur, pengembangan sektor pertanian dinilai dapat menjadi salah satu kekuatan dalam mendukung ketahanan pangan masyarakat.

Selain mendukung sektor pertanian, TEP 13 ITS juga merancang pengadaan penerangan jalan umum berbasis tenaga surya dengan kapasitas 80 Wp.

Penerangan tersebut diharapkan dapat mendukung aktivitas masyarakat pada malam hari, sekaligus meningkatkan aksesibilitas dan keamanan di lingkungan permukiman Kampung Margomulyo.

Program TEP 13 ITS berlangsung pada Agustus hingga November 2026. Tim tersebut juga diperkuat Muhammad Rizqi Mardhotillah SPwk, Amri Diensyah Hufadz Abdullah ST, Kurnia Marika Gadis Kirana SPwk, Siti Nur Kholifah SPwk, dan Nareswari Cantika Nurmansyah SAk.

Penerima manfaat program meliputi petani, perangkat Kampung Margomulyo, serta Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Margomulyo.

Melalui program tersebut, Tim 13 Ekspedisi Patriot ITS berharap masyarakat Margomulyo memiliki alternatif sumber energi yang lebih mandiri untuk menunjang berbagai aktivitas produktif.

Penerapan teknologi energi surya juga diharapkan dapat mendorong proses pengolahan hasil pertanian yang lebih efisien sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

Langkah tersebut sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-7 tentang Energi Bersih dan Terjangkau.

Program ini juga mendukung SDGs tujuan ke-2 tentang Tanpa Kelaparan melalui penguatan produktivitas pertanian, tujuan ke-8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, serta tujuan ke-9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui penerapan teknologi yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.

Pada akhirnya, rancangan PLTS dan penggilingan padi di Kampung Margomulyo tidak sekadar ditujukan untuk menyediakan sumber energi alternatif. Program tersebut diarahkan menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pertanian yang lebih mandiri, efisien, dan berkelanjutan.

Lebih jauh, TEP 13 ITS berharap penerapan teknologi tersebut dapat menjadi model riset terapan yang tidak berhenti di Kampung Margomulyo, tetapi dapat dikembangkan dan direplikasi di kawasan transmigrasi lainnya.

tags :
its plts

Komentar

Berita Terkait