Pengiriman Pasukan Perdamaian ke Gaza Sejalan Amanat Konstitusi - Telusur

Pengiriman Pasukan Perdamaian ke Gaza Sejalan Amanat Konstitusi

Foto: dok. telusur.co.id

telusur.co.id - Ketua Komisi I DPR RI Utut Adianto menegaskan bahwa wacana keterlibatan Indonesia dalam misi pasukan perdamaian di Jalur Gaza merupakan langkah yang sejalan dengan amanat konstitusi dan semangat politik luar negeri Indonesia.

Utut mengungkapkan, sebelumnya Presiden RI telah mengundang Menteri Luar Negeri, para mantan Menlu, tokoh nasional, hingga pemuka agama untuk membahas dinamika konflik Palestina–Israel. Pertemuan tersebut, kata Utut, bertujuan untuk menyerap masukan sekaligus membangun kesepahaman nasional terkait langkah yang paling tepat bagi Indonesia.

“Poinnya jelas, Presiden ingin mendapatkan masukan dan persetujuan dari berbagai elemen bangsa,” ujar Utut di gwdung DPR RI, Jakarta, Selasa (10/2/2026).

Politisi PDI-P juga menjelaskan, Jalur Gaza memiliki luas sekitar 45 kilometer persegi, sedikit lebih besar dibandingkan wilayah Jakarta Pusat. Dengan kondisi geografis dan kepadatan penduduk yang tinggi, stabilitas keamanan di kawasan tersebut menjadi isu krusial yang memerlukan keterlibatan komunitas internasional.

Menurut Utut, jika Indonesia diminta berperan, maka yang dikirim adalah pasukan terbaik bangsa dalam kerangka misi perdamaian, bukan untuk kepentingan perang. Langkah ini, tegasnya, sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945 yang menegaskan peran Indonesia dalam menjaga ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

“Ini bukan keluar dari rel konstitusi. Justru inilah praktik nyata dari amanat UUD 1945,” kata politisi PDI Perjuangan itu.

Utut yang pernah menjabat sebagai wakil ketua DPR RI juga menekankan bahwa dukungan Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina merupakan sikap konsisten yang telah lama dianut dan disepakati lintas partai politik. Ia meyakini, tidak ada satu pun partai di Indonesia yang menolak prinsip kemerdekaan Palestina.

Lebih lanjut, Utut menyoroti peran Amerika Serikat dalam konflik tersebut. Ia menilai, secara geopolitik, hanya AS yang memiliki pengaruh signifikan untuk mendorong Israel mematuhi kesepakatan internasional.

“Kalau kita bicara realitas politik global, yang bisa membuat Israel nurut itu Amerika Serikat. Di sinilah titik kompromi paling menguntungkan, yakni membangun kerja sama dengan AS melalui misi pasukan perdamaian,” ujarnya.

Dengan pendekatan tersebut, Utut berharap Indonesia dapat memainkan peran strategis, tidak hanya sebagai pendukung moral Palestina, tetapi juga sebagai aktor aktif dalam mendorong perdamaian yang adil dan berkelanjutan di kawasan Timur Tengah.


Tinggalkan Komentar