telusur.co.id -Hampir tiga bulan pascabencana hidrometeorologi yang melanda wilayah Sumatra, Universitas Airlangga (UNAIR) terjun langsung ke lapangan untuk mempercepat pemulihan sosial dan ekonomi masyarakat terdampak di Aceh.
Fokus utama bantuan ini diarahkan kepada para pelaku usaha mikro dari keluarga miskin dan kelompok rentan. Langkah ini selaras dengan karakteristik UNAIR sebagai entrepreneurial university yang berkomitmen memberikan dampak nyata bagi kemandirian ekonomi masyarakat.
Dalam misi kemanusiaan ini, UNAIR menerjunkan enam dosen ahli untuk melakukan pendampingan intensif yang berpusat di Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, pada Sabtu (21/2) hingga Minggu (22/2).
Ketua Tim Pengabdian Masyarakat UNAIR, Prof. Dr. Bagong Suyanto, M.Si., menjelaskan bahwa program ini merupakan instruksi langsung dari Rektor UNAIR untuk memastikan pemulihan bencana tidak berhenti pada bantuan darurat semata, tetapi berlanjut pada penguatan pola pikir (mindset) dalam mengembangkan usaha.
“UNAIR berkomitmen tidak hanya mendampingi, tetapi juga memberikan bantuan modal usaha kepada pelaku usaha mikro. Nanti, satu pelaku usaha mikro akan dibantu 3 juta rupiah untuk modal usaha mereka,” jelas Prof. Bagong.
Menurutnya, pendampingan ini bertujuan mendorong para pelaku usaha untuk "membesar ke samping", yakni dengan mengembangkan diversifikasi usaha agar sumber penghasilan tiap keluarga tidak hanya bergantung pada satu jenis mata pencaharian saja.
Mengingat jarak geografis yang cukup jauh, UNAIR menggandeng alumni dan Yayasan Peduli Pembangunan Ekonomi Pesisir Aceh (YAPPERA) serta berkolaborasi dengan Universitas Malikussaleh untuk melakukan pemantauan secara intensif. Prof. Bagong menegaskan bahwa kemitraan dengan lembaga lokal menjadi kunci keberlanjutan program agar evaluasi tetap berjalan meski tim ahli telah kembali ke Surabaya. Hal ini memastikan bahwa dukungan modal dan ilmu yang diberikan dapat tumbuh secara efektif.
Selain aspek penguatan ekonomi, tim UNAIR juga membekali warga dengan edukasi mitigasi bencana, manajemen usaha, literasi keuangan, hingga pemberian bantuan peralatan produksi yang disesuaikan dengan kebutuhan spesifik masing-masing warga.
"Yang dibutuhkan masyarakat adalah keberlanjutan. Kami hadir untuk memastikan mereka dapat kembali bangkit, memiliki daya tahan ekonomi, dan lebih siap menghadapi risiko di masa depan," tambah Prof. Bagong.
Melalui kontribusi ini, UNAIR menegaskan perannya sebagai institusi pendidikan yang aktif dalam penanganan bencana dan pemberdayaan masyarakat di berbagai wilayah Indonesia. Program ini juga merupakan implementasi nyata dalam mendukung sejumlah poin Sustainable Development Goals (SDGs), di antaranya pengentasan kemiskinan (SDG 1), kehidupan sehat dan sejahtera (SDG 3), pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi (SDG 8), permukiman berkelanjutan (SDG 11), serta kemitraan global (SDG 17).



